Lokasi Pasaranjayya
Sekitar 30 menit berjalan dari puncak gn Lomobattang,
pandangan kami arahkan kesebelah kanan dengan radius pandang 1700m kebawah kami
dapat melihat tanah lapang yang luas dan dikelilingi pepohonan yang rindang… aneh
tapi nyata yahhh benar saja itulah Pasaranjayya, dari bahasa setempat anjayya
artinya “orang mati” jadi pasaranjjaya artinya pasarnya orang mati Wow… menurut
cerita para pendaki pendahulu kami, cuman sedikit pendaki yang berani masuk
disana, banyak hal hal yang diluar logika terjadi, salah satunya pernah ada
pendaki yang tidak bisa keluar dari lokasi area anjayya dua hari dua malam baru
dapat keluar dari lokasi tersebut. ada juga cerita dari senior kami pada saat
dia masuk kedalam area anjayya botol air minum seperti ada yang remuk remukan. itu
sedikit cerita yang saya dengar.
Menurut mitos, konon kabarnya dari cerita
rakyat setempat pasaranjayya merupakan titik dimana pusat aktifitas jin dan
mahluk gaib yang sangat kuat dan mempunyai nilai historis mistis yang menjadi
cerita turun temurun oleh warga setempat wallahulAlam……. lanjut kebawah..
“ MERAH PUTIH RAKSASA DI ANJAYYA”
Trans Merah putih II
Lompobattang – Bawakaraeng dengan melakukan pembentangan bendera merah
putih raksasa ukuran 30 x8 m di padang pasaranjayya
Dalam rangka memperingati hari bumi yang
jatuh pada tanggal 22 april 2014 Kami dari Cagar Alam Indonesia Cinta Alam
CAICA melakukan kegiatan pendakian trans lompo battang - bawakaraeng dengan
misi pembentangan bendera merah putih raksasa dengan ukuran 30 x 8 meter di
padang pasaranjayya skaligus pencapaian
rekor organisasi pencinta Alam
pertama di dataran Sulawesi selatan yg melakukan keg. Tersebut . Mengingat
belum ada satupun organisai pencinta alam baik mapala, kpa,opa dan klompok
kelompok pengiat alam bebas lainnya yg pernah melakukan kegitan yang mempunyai
tinngkat resiko tinggi tersebut……
Suasana haru pelepasan tim Trans Lompobattang-Bawakaraeng,
Mentari Pagi Lembang Bu'ne
“ Rabu 16 April 2014, pukul
14.54 setelah perbekalan dan peralatan rampuang perjalanpun kami mulai dari
Sekretariat Cagar Alam Indonesia Cinta Alam (CAICA) dengan berjumlah anggota 13 orang. sesuai
dengan brifing sebelumnya salah satu dari senior kami yaitu Andi Amiruddin biasa kami panggil “puang
unding” di berikan tanggung jawab sebagai leader dalam tim kami, setalah
pelepasan dan berfoto besama, kamipun berangkat dengan megunakan mobil zuzuki grand
max pick Up. Dengan jarak tempuh kurang lebih delapan jam perjalanan, kami pun
tiba tepat pukul 23.50 malam di desa Lembang Bu’ne ( kaki gunung lompo battang
) Kec. Malakaji Kab. Gowa, Sul-Sel di desa inilah kami memutuskan untuk
menginap.
Perjalanan memang sanggat lama di karenakan
beberapa kali mobil berhenti untuk makan dan beristirahat..
Pagi
harinya Kamis 17 April 2014 pukul 08.00. setelah berkemas kemas kamipun sarapan
dengan bekal yang kami bawah. sarapanpun kami tutup dengan meneguk segelas
coffee hangat. Sebelum memulai perjalanan tak lupa kami berdoa agar perjalan
lancar dan tak ada kendala yang berarti, target awal kami adalah pos 9
lompobattang. Perjalananpun kami mulai langkah pertama menuju pos 1 Gunung
lompobattang sepanjang perjalan banyak terelihat perkebunan warga dan semak
belukar, dipos ini terdapat aliran sungai yang jernih, untuk jarak tempuh dari
dusun ke pos 1 sekamir ±40 menit.
Sungai Pos 1 Gn.lompobattang
Menuju pos 2 kami akan melewati semak belukar dan masih
menyembrangi sungai, sebaiknya mengisi botol air karena di pos ini kami dapat
menemukan sumber air, Dari pos 2 ke pos
3 perjalan melewati semak belukar setinggi kepala dan hutan yang lebat ala
gunung lompobattang dari perjalan menuju
ke pos 3 terdapat percabangan jalur
sebagai leader tim “puang unding” mengabil jalur kanan dan memasang
street line, setelah 20 menit perjalanan tepat pukul 10.05 kami telah tiba di pos 3 dengan ketinggian + 1532
m dpl
Perjalan kami lanjutkan menuju pos 4, pos
ini berada di puncak bukit dengan keadaan sedikit terbuka dan waktu tempuh
sekamir +1 jam.
Dari pos 4 menuju pos 5 sedikit megalami hambatan dikarenakan
hujan cukup lebat untungnya kami telah mempersiapkan mantel masing – masing.
Kami tiba di pos 5 pukul 13. 20. Hawa dingin dan lapar mulai menyerang dan
merasuki tubuh kami, kami berinisiatif untuk makan siang di pos 5 tapi Puang
unding selaku leder kami mengatakan “nanti
di pos 6 baruki’ makang karena jalur
sudah landai……ka sessaki itu dirasa kalo
sudahki’ makan baru tanjakang” langsung
saja kami mengangkat carriel (tas ransel besar) di pundak masing-masing dan
bergegas melajutkan perjalan,
Hujanpun mengiringi langkah kami menuju pos selanjutnya,
setiba di pos 6 disinilah terjadi vegetasi dari hutan yang sebelumnya belum
terlalu rapat menjadi volume hutan rapat, saya tidak melihat adanya pergerakan
makan siang, rupanya puang unding memutuskan melenjutkan perjalan menuju pos 7
mungkin karena memertimbangkan hujan yang semakin keras.
Pukul 16.00 kami tiba di pos 7 yang merupakan puanggungan
gunung lompobattang warga biasa menyebut dengan nama puncak assumpolong dengan
ketinggian 2673 mdpl, dari pos ini pula kami sudah dapat melihat puncak
lompobattang juga bisa menjadi tempat ngecamp yang cukup luas, di pos
inilah kami akhirnya memutuskan untuk mengisi kampoeng tengah yang sedari pagi
telah kosong .setelah plesit ( tenda sementara ) terbentang kamipun memulai
aktifitas masak memasak dan ditemani secangkir original coffee, menu hari ini
telur goreng rasa pos7 ala chef Cawiwi ( salah seorang dari tim kami )
setalah perut kami terisi, perjalanan kami lanjutkan ke pos 8 dengan menuruni puncak assumpolong ( pos 7 ) kami melewati penurunan yang cukup terjal dengan jalur yang sempit dan jurang disebelah kanan. Perjalanan dari pos 7 ke pos 8 dapat ditempuh selama 30 menit, di pos 8 terdapat sebuah tanjakan tidak terlalu kentara. Tidak jauh dari pos ini terdapat sebuah prasasti atas nama Triwahyudi Alm. adalah salah seorang anggota sispala kalpataru dari SMA Negeri I Makassar yang meninggal saat mendaki gunung lompobattang, tak lupa kami mengirimkan al-fatiha kepada beliau.
Pukul
18.00 kabut malam sangat terasa di Pos 8 Perjalanan kembali dilanjutkan
menuju ke pos 9 setelah ± 30 menit akhirnya kami sampai pos 9, di pos ini
terdapat bongkahan batu besar dengan tetesan–tetesan air di bawah bongkahan
batu tersebut dan kami mengakhiri
perjalalan hari ini dengan membuat camp.
Pukul 21.00 tengg setalah makan dan bersih
tenda, kami memulai breafing dangan tugas masing, sesuai dengan settingan awal
pada saat rapat teknis di secretariat, kami terbagi menjadi 3 tim yaitu tim A
bertugas sebagai pembuka jalur dan tim pembentang bendera sekaligus memasang
street line berwarna biru yang
dikoordinatori oleh puang unding sendiri anggota Rokip, bitox, Rispal, kondo
dan wawo, tim B yang dikoordinir oleh cacing dan beranggotakan cawiwi, gumbe,
buntal sedangkan tim C betugas memgambil gambar dari spot terbaik ( pengambilan
gambar dari area puncak mengarah ke anjayya titik spot ) sekaligus sebagai
swiper yang dikoordinir oleh Habib beranggotakan, Cakra dan saya sendiri tomket.
Personil Tim A, membawa bendera dan membuka jalur
Jumat 18 April 2014 pukul 04.00 dini hari tim A
telah selesai mempersiapkan segala perlengkapannya dan memulai perjalan lebih
awal dari tim yang lain menuju pasaranjayya untuk membengtakan bendera merah
putih dengan ukuran 30x8 meter. Dangan harapan pukul 12.00 bendara telah
dibentangkan di padang anjayya.
Pukul 09.20 tim B dan C berangkat bersamaan menuju Pasaranjayya,
tepat pukul 10.15 kami tiba di Puncak tarangulasi gunung Lompobattang dengan
medan yang menanjak dan melewati batu besar yang berdiri tagak dan terjal
sedangkan dikanan dan dikiri terdapat jurang yang dalam, perjalan menuju puncak
tidak mudah karena medan batu yang domoinan yang kami pijaki sangat licin
sesekali kami harus merayap dan jongkok,
Tim B dan C Berfoto di Puncak Gn Lompobattang
Dari puncak lompobattang kami
megambil jalur kiri yang sudah terpasang street lain yang sebelumnya telah di
pasang oleh tim A. pukul 11.40 kami meninggalkan tranggulasi puncak lompobattang dan melanjutkan
perjalan menuju anjjayya dengan medan yang extrim melelui beberpa puanggungan
gunung dan berjalan miring dengan pijakan
yang sangat sempit.
Sekamir 30 menit berjalan dari puncak,
pandangan kami arahkan kesebelah kanan dengan radius pandang 1700m kebawah kami
dapat melihat tanah lapang yang luas dan dikelilingi pepohonan yang rindang… aneh
tapi nyata yahhh benar saja itulah Pasaranjayya, dari bahasa setempat anjayya
artinya “orang mati” jadi pasaranjjaya artinya pasarnya orang mati Wow… menurut
cerita para pendaki pendahulu kami, cuman sedikit pendaki yang berani masuk
disana, banyak hal hal yang diluar logika terjadi, salah satunya pernah ada
pendaki yang tidak bisa keluar dari lokasi area anjayya dua hari dua malam baru
dapat keluar dari lokasi tersebut. ada juga cerita dari senior kami pada saat
dia masuk kedalam area anjayya botol air minum seperti ada yang remuk remukan. itu
sedikit cerita yang saya dengar.
Menurut mitos, konon kabarnya dari cerita
rakyat setempat pasaranjayya merupakan titik dimana pusat aktifitas jin dan
mahluk gaib yang sangat kuat dan mempunyai nilai historis mistis yang menjadi
cerita turun temurun oleh warga setempat wallahulAlam…….
Kabut Tebal Menghalangi Proses Pengambilan Gambar
Pukul 12.00 Tim C sudah menemukan
spot yang bagus untuk mengambil gamabar dan tim B melanjutkan perjalanan menyul
tim A, tapi pasar anjyya tertutupi kabut tebal
waktu yang ditentukan sudah habis, sebelumya tiap tim telah di beri
tugas masing masing termasuk tim C toleransi waktu yang di berikan tim C untuk
pengambilan gambar adalah sampai jam 12.00 …. Tetapi waktu yang di targetkan
sudah hampir habis jadi kami memutuskan
untuk melajutkan perjalanan dengan hati
yang HAMPAH berjalan menuju persimpangan tiga, sempat terjadi disorientasi selama beberapa jam. Sepanjang jalan kami
tidak menemukan street line yang telah
terpasang sebelumnya oleh tim A, mengingat kami telah terpisah jauh antara
kedua tim. sehinggah kami tersadar ternyata kami sudah berada di patahan
tebing, dan kami berjalan di luar jalur yang sebenarnya,. habib selaku
coordinator tim C memerintahkan untuk menyisrir tebing mencari jalur, setelah satu
jam lebih jalur orentasi belum kami
temukan, hingga kami kelelahan dan memutuskan untuk kembali ke ko’bang (menurut
mitos adalah kuburan) yang sebelumnya
kami lalui. secara terpaksa kami beserta tim C mengentikan perjalan hari itu
juga dan memutuskan menginap di camp tersebut. ko’bang termasuk salah satu puncak dari
deretan pegunungan lompobattang berkisar 2870 Mdpl. kami memutuskan untuk
kembali ke ko’bang agar mudah memantau pergerakan dari tim lain yang sebelumnya
telah terpisah dari kami tim C. menurut mitos setempat Batu yang terdapat disekaminya
dipercaya masyarakat setempat adalah
kuburan Raja Gowa ada juga yang mengatakan kuburan Syech yusuf disini juga
biasa dijadikan tempat ritual karena terdapat pisang, lilin, dan beberapa biji
telur sisa sisa sesajen.
Keesokan harinya sabtu 19 april 2014
pada pukul 08,05 kami bergegas untuk mencari jalur sebenarnya, mengingat kedua
tim di bawah pasti khawatir dengan keadaan tim kami karena terpisah selama satu
hari, Setelah kami menemukan jalur, kami mempercepat pergerakan kembali ketitik
spot pengambilan gambar tiba-tiba kami mendengar teriakan dari arah bawah,
ternyata benar dugaan kami, itu suara puang unding yang tengah mencari tim kami.
dan bergerak ke atas mengarah ke tim kami dalam perjalanan turun suara saling
sahut sahutan terdengar riuh hingga suara makin lantang seakan akan makin mendekat
akhirnya setelah beberapa jam tim kami bertemu dengan puang unding
Alhamdulillah perasaan kami legah, ternyata kedua tim yaitu tim A dan tim B
memutuskan menginap di persimpangan antara lembah kharisma dan anjayya untuk
menunggu kami.… setelah kami yakin ketiga tim benar benar aman.puang unding
kembali turun ke anjayya untuk memberikan kabar kepada kedua tim di bawah untuk
melanjutkan misi yang sebelumnya terpending. Tapi sebelum puang unding turun
kebawah, kami telah bersepakat untuk memutuskan kembali bertahan ke tempat spot
awal menunggu moment untuk megambil gambar sesuai target.
Detik-detik Pembentanagan Bendara Merah Putih Raksasa 30x8
Gambar diambil dari radius 1.700m dari kawasan puncak Lompobattang
Tepat Pukul 14.05 bendera merah putih 30x8 meter
sudah terbentang sempurna di Anjayya. Dan kami tidak menyianyiakan moment untuk
pengambilan gambar sebanyak banyaknya. dalam hati kami berteriak bahwa misi
berhasil namun kami tidak boleh terlena dengan keberhasilan tersebut, sebab
perjalanan masih sangat panjang dan tantangan masih menunggu di depan mata.
Setelah pengambilan gambar selesai, kami dari tim C bergegas turun
ke pasaranjayya dan bergabung dangan tim lainnya, pukul 16.20 kami tiba
dipertigaan antara lembah kharisma sebelah kiri dan pasaranjayya sebelah kanan.
kemudian setelah semua tim bergabung, kami bersama sama masuk ke areal
pasaranjayya.
Proses Penggulungan Bendara Dan Suasana PasarAnjayya
Pukul 17.00 setelah bendara digulung
kembali kami melanjutkan perjalan menuju lembah kharisma dimana tempat ini
terdapat 2 sungai kecil untuk camp dan bermalam, pukul 19.20 kami tiba dilembah
kharisma beristirahat memulihkan stamina yang terkuras.
Keesokan harinya 20 april 2014, pagi
itu kami bercerita sejenak dan bercandatawa ditemani secangkir kopi dan
sebatang rokok bintang mas (BMW) kami senang MISI kami setelah berhasil
mengingat kami sempat terpisah sehari, pukul 10.11 kami star dari lembah kharisma
menuju puncak bawakaraeng kami melewati tanjakan penuh sampai pos 13 “sebaiknya mengencangkan sabuk pengaman karena
duri rotan siap mengahadang jalan kalian” kata puang unding kepada kami.
Terdapat tempat yang luas dengan ketinggian 2066 Mdpl kami tidak disarankan
untuk berlama lama di pos ini karena beberapa faktor seperti mistik, dinginnya
cuaca serta medan magnetis dan sumber air yang tidak ada.
Perjalan kami lanjutkan setelah
menerima masukan dari leader (Puang Unding), selama perjalan kami melewati
medan yang kanan kirinya adalah jurang terkadang angin menghantam dari arah
mana saja sehingga mengharuskan berjalan menunduk sambil memegang tumbuhan yang
ada disekitar jalur, kemudian kembali melewati punggungan gunung yang disekitarnya
jurang terjal “ASTAGFIRULLAH ALADZIM,
ALLAHU AKBAR” kata yang sering terucap dibibir kami.
Kami melihat tebing makkayya konon
disinilah tempat ritual haji Bawakaraeng bagi kepercayaan penduduk setempat, kami
juga melewati jalur yang sempit dan terdapat batu besar sehingga hanya dapat
dilalui satu orang karena kanan dan kiri jurang. puang unnding mengatakan
“jalur titian siratal mustakim dan pintu angin” disini sangat berbahaya karena kami
bisa terbang mengunakan carrier, untungnya itu tidak terjadi pada kami.
Jalur Menuju Pos 13 memicu Andrenalin
Setelah itu kami melewati jalur
landai dan terdapat 3 mata air yang berbeda warna ada jernih, coklat, dan putih
sungguh kuasa tuhan, di pos ini sudah termasuk dalam kawasan gunung bawakaraeng
yang letaknya dibelakang puncak bawakaraeng dengan medan sedikit menanjak
mengambil jalur kanan untuk menuju tranggulasi puncak bawakareng.
Pukul 16.21 kami tiba di pos 10 Bawakaraeng dan beristirahat serta membicarakan apakah kami akan camp disni atau sehabis makan lalu melanjutkan perjalanan turun ke lembanna.
Pukul 16.21 kami tiba di pos 10 Bawakaraeng dan beristirahat serta membicarakan apakah kami akan camp disni atau sehabis makan lalu melanjutkan perjalanan turun ke lembanna.
Puncak Gn. Lompobattang
Pukul 17.00 puang unding sebagai
leader seluruh tim memutuskan melanjutkan perjalan turun sehabis makan.
Mendengar keputusan leader, seluruh anggota tim mempersiapkan kembali peralatan
lalu memulai perjalanan turun “Arrarrraaaa,
Gas Pollll..!!!”. Setelah beberapa jam perjalanan malam tepat pukul 02.45 Seluruh
rombongan tim akhirnya tiba di dusun lembanna, kec. Tinggi moncong, Kab. Gowa
(kaki gunung bawakaraeng). dirumah tata badollah (salah satu warga dusun
lembanna, sekaligus basecamp CAICA) dimana 2 hari sebelumnya sudah ada saudara
CAICA lainnya yang menunggu. Rasa penasaran dan kekhawatiran pecah shubuh itu
juga karena kedatangan kami berganti dengan sorak teriakan bahagia bercampur
haru akhirnya seluruh tim tiba dengan selamat sampai tujuan dan misi dinyatakan
“SUKSES” dengan berhasilnya
membentangkan Bendera Merah Putih Raksasa Ukuran 30x8 Meter Di Padang
Pasaranjayya.
Dengan
suksesnya misi Pembentangan Bendera Merah Putih Raksasa ukuran 30x8 meter di Anjayya membuat sejarah dan pencapaian
rekor baru, bahwa Cagar Alam Indonesia Cinta Alam adalah salah satu organisasi
pencinta alam pertama ditanah Sulawesi yang berhasil melaksanakan misi
tersebut.
Trans
Gunung lompobattang Bawakaraeng menjadi pengalaman yang tak pernah kami lupakan,
kekompakan tim adalah kunci utama suksesnya misi,. Tak lupa kami haturkan puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan kesehatan serta
lindungannya sehingga kendala-kendala dalam perjalanan dapat teratasi dengan
baik. juga terima kasih pula kepada saudara seCAICA atas do’a dan dukungan baik
moril maupun materil sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan sukses.
“LAHIR UNTUK BESAR, DIKENAL DAN DIKENANG” Bravo CAICA
Foto seluruh tim CAICA dilembanna

Tidak ada komentar:
Posting Komentar